Iklan

Kamis, 02 Oktober 2014

Musim Kemarau di Palujantung

Musim kemarau tahun 2014 yang beralamat Desa Palugon, Desa Jambu, Desa Cigintung mengakibatkan beberapa lahan pertaniah mengalami kekeringan, tidak hanya itu pendapatan petanipun kini kian menurun.  Sumber kompas menyatakan: Musim kemarau tahun 2014 berpotensi lebih kering dan lebih panjang dari tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah El Nino, fenomena naiknya suhu muka laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pembentukan awan dan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia Kepala Pusat Meteorologi Publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mulyono R Prabowo, mengatakan, "El Nino akan mengganggu proses pembentukan awan hujan, terutama di Indonesia Barat."

Mulyono menerangkan, El Nino yang berpotensi datang pada bulan Juli hingga Agustus 2014 sebenarnya berskala lemah. Artinya, peningkatan suhu muka laut di Pasifik berkisar 0,5 hingga 1 derajat celsius.

Namun, El Nino tetap harus diantisipasi. "Karena terjadi ketika wilayah Indonesia, terutama Sumatera, Jawa, dan selatan Indonesia sedang mengalami musim kemarau," kata Mulyono saat dihubungi Kompas.com, Jumat (16/5/2014).

Kamis, 04 September 2014

Benda Purbakala ditemukan di Wanareja Cilacap

Beberapa benda purbakala yang diperkirakan sebuah candi yang memiliki nilai sejarah tinggi akhir pekan lalu ditemukan oleh Tim RAPI (Radio Antar-Penduduk Indonesia) Lokal Majenang. Benda-benda tersebut diketahui tim yang sedang mengadakan kegiatan survei di Cibagok, Desa Cilongkrang, Kecamatan Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah.


Ketua Tim Survei Giri Widodo kemarin menjelaskan, benda-benda tersebut ditemukan pada ketinggian 616 m di atas permukaan laut. Menurutnya, benda-benda yang ditemukan baru berupa patung lingga sapi dengan panjang 75 cm. "Patung ini dalam posisi menghadap ke barat," ujarnya.

Selain itu, juga ditemukan batu lingga dengan panjang 86 cm dan lebar 85 cm. Untuk batu ini, cekungannya mempunyai panjang 29 cm. Di samping itu, juga terdapat batu-batuan seperti nampan dengan panjang 40 cm dan lebar 30 cm.

"Benda ini dalam keadaan patah di tengahnya. Sedangkan batu kepala sapi juga putus," jelasnya.

Giri mengungkapkan, melalui penjelasan Kasbini, seorang pensiunan pegawai Depdikbud Cilacap, pihaknya meyakini benda-benda tersebut merupakan bangunan berupa pura/candi. Hal ini setelah diadakan penggalian sedalam 80 cm, ditemukan ruangan kosong di bawahnya.

"Bagian tengah ketika diketuk suaranya bergema. Sedangkan bagian pinggir suaranya keras. Patung sapinya berada di bagian tengah tersebut. Jadi dimungkinkan benda itu bagian dari sebuah pura," tegasnya.

Prasasti belum ketemu

Temuan tersebut, kata Giri, kalau dibandingkan dengan benda purbakala dan prasasti di Pangandaran hampir mirip. "Namun sayang, kemungkinan adanya prasasti belum ditemukan," tambahnya.

Dia yakin jika ada pelebaran penggalian dengan riset yang terencana akan ditemukan prasasti yang dapat menjelaskan sejarah benda purbakala tersebut. (mediaindonesia)

Team RAPI-Nusantara.NET


Sumber :
http://rapi-nusantara.net/latest/benda-purbakala-ditemukan-di-cilacap.html

Terkini